Presiden Korea Selatan Memicu Ketegangan Diplomatik dengan Israel karena Video Lama




SEOUL — Presiden Korea Selatan, Lee Jae-Myung, baru-baru ini memicu kemarahan pemerintah Israel setelah membagikan sebuah video lama dalam cuitan di media sosial yang dimaksudkan untuk menyoroti penderitaan manusia dan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah konflik. 

Pada 10 April 2026, Presiden Lee memposting video yang menunjukkan tentara Israel yang diduga mendorong tubuh dari sebuah bangunan di Tebing Barat. Lee mengatakan bahwa penting untuk mengecek kebenaran video itu dan jika benar, mengetahui tindakan apa yang telah diambil. 

Namun, pemerintah Israel bereaksi keras karena video tersebut bukan kejadian baru, melainkan sebuah kejadian dari September 2024 yang sudah pernah diliput media internasional. Pemerintah Israel menuduh bahwa video itu telah dibuat oleh akun yang menyebarkan informasi yang menyesatkan dan bahwa menyajikannya ulang seolah itu kejadian saat ini adalah penyebaran disinformasi. 


Kementerian Luar Negeri Israel mengeluarkan pernyataan yang mengecam komentar Presiden Lee sebagai tidak dapat diterima, terutama karena ia membuat perbandingan yang sensitif terkait peristiwa sejarah seperti Holocaust dan tindakan militer modern. Pernyataan Israel menekankan bahwa insiden dalam video itu telah diselidiki pada saat itu dan bukan sebuah kejadian baru. 


Menanggapi kritik, Lee Jae-Myung menegaskan bahwa ia memposting video itu sebagai bagian dari penekanan pada perlunya menghormati hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional. Ia juga menyatakan kekecewaannya bahwa Israel tidak menunjukkan refleksi atas kritik internasional terhadap tindakan yang dianggap melanggar HAM. 

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan kemudian menyatakan bahwa maksud Lee adalah untuk mengungkapkan pandangan mengenai nilai universal hak asasi manusia, bukan komentar politik terhadap Israel secara spesifik. 


Dampak Diplomatik

Insiden ini memperlihatkan betapa sensitifnya penggunaan media sosial oleh pemimpin negara, terutama saat menyentuh isu konflik internasional dan sejarah yang traumatis. Meski kedua negara masih menjalin hubungan diplomatik yang panjang, insiden tersebut menimbulkan ketegangan dan perdebatan mengenai cara pemimpin negara menyampaikan pesan mereka di platform publik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Tarik Napas Lega! Iran Buka Selat Hormuz di Tengah Bara Konflik Lebanon

Digitalisasi Konsumsi Nasional: BGN Alokasikan Rp1,2 Triliun untuk Sistem Monitoring Real-Time Program MBG

Tegaskan Fiskal Solid, Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Utang Rp500 Triliun dari IMF