Rusia Serang Kota Sumy di Timur Laut Ukraina dalam Serangan Paling Mematikan Tahun Ini

Kota Sumy di timur laut Ukraina menjadi sasaran serangan udara paling mematikan yang dilancarkan Rusia sepanjang tahun ini. 

Serangan yang terjadi pada Sabtu dini hari tersebut menghantam wilayah pemukiman padat penduduk, menyebabkan puluhan korban jiwa dan luka-luka, serta kerusakan parah pada infrastruktur sipil.

Menurut pihak berwenang Ukraina, setidaknya 28 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 50 lainnya mengalami luka-luka akibat serangkaian ledakan yang diyakini berasal dari rudal balistik jarak menengah dan drone kamikaze.

 Di antara korban terdapat anak-anak dan lansia yang saat itu tengah berada di rumah mereka.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam serangan tersebut sebagai “aksi teroris brutal yang disengaja” dan menyerukan kepada dunia internasional untuk segera memberikan respons tegas terhadap eskalasi agresi Rusia. “Kami membutuhkan lebih banyak bantuan pertahanan udara, dan kami membutuhkannya sekarang. 

Setiap menit keterlambatan bisa berarti nyawa yang hilang,” kata Zelensky dalam pidato resminya.

Militer Ukraina menyatakan bahwa mereka berhasil menembak jatuh beberapa drone, namun tak mampu menghentikan seluruh gelombang serangan yang datang secara bertubi-tubi. 

Tim penyelamat bekerja sepanjang malam untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan dan memadamkan kebakaran yang melanda sejumlah blok apartemen.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, serangan terhadap wilayah Sumy ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di beberapa garis depan di Ukraina timur.

Komunitas internasional, termasuk Uni Eropa dan NATO, menyampaikan belasungkawa dan kecaman atas serangan tersebut. 

Beberapa negara menyerukan penguatan sanksi terhadap Moskow dan peningkatan dukungan militer untuk Kyiv.

Kota Sumy, yang terletak dekat perbatasan Rusia, sebelumnya telah beberapa kali menjadi target, namun belum pernah mengalami serangan sebesar ini dalam satu waktu. 

Warga setempat kini menghadapi ketakutan baru akan kemungkinan eskalasi yang lebih luas di wilayah mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Tarik Napas Lega! Iran Buka Selat Hormuz di Tengah Bara Konflik Lebanon

Digitalisasi Konsumsi Nasional: BGN Alokasikan Rp1,2 Triliun untuk Sistem Monitoring Real-Time Program MBG

Tegaskan Fiskal Solid, Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Utang Rp500 Triliun dari IMF